Petik Hasil Tinggi dengan Menjaga Kualitas

Petik Hasil Tinggi dengan Menjaga Kualitas

Wanaraja merupakan salah satu sentra bawang merah untuk wilayah Garut, Jabar. Be lum lama ini AGRINA berkesempatan mengunjungi kebun bawang milik Ade Karwana, salah seorang petani sekaligus pembenih bawang merah kawakan di daerah Wanaraja. Benih bawang merah hasil tanamnya terbilang banyak dicari pasar karena dari segi bentuk tampilan, warna merahnya menarik, termasuk dari segi rasa.

Ade mengaku dalam menghasilkan benih bawang lebih mengejar kualitas ketimbang kuantitas. Menurutnya, pada saat panen raya bawang merah April tahun ini harga bawang di petani sempat jatuh hingga Rp6.000/kg, padahal pada akhir 2015 harga bawang melambung hingga Rp30 ribu/kg. Fluktuasi harga bawang memang sudah biasa terjadi setiap tahun.

Lebih lanjut Ade mengatakan, saat panen raya harga bawang produksinya sedikit lebih tinggi, yaitu Rp7.000/kg. “Lumayan ada hasil sedikit, meski terbilang impas. Saat musim hujan penggunaan pupuk berkurang dan biaya produksi ikut berkurang. Hanya saja har ga benih mahal. Kemarin sampai Rp40 ribu/kg benih bawang,” ungkapnya. Harga benih yang normal Rp20 ribu/ kg, tetapi khusus benih Ade dihargai Rp25 ribu/kg karena kualitas dinilai lebih baik.

Dari 5 kuintal benih untuk satu hektar lahan, Ade bisa menghasilkan 45 ton bawang. Dari situ, ia me nyortir hasil panennya. Ada yang di jual sebagai bawang konsumsi, ada pu la yang ditanam kembali sebagai bibit. “Kalau lagi punya uang, stok benih di simpan. Saat nggak punya uang, 75% dijual, 25% simpan.

Yang besar-besar saya jual karena jika ditanam bakal bengkak. Ini kan bibit saya, jadi jangan hilang. Kalau hari raya nggak panen, saya nggak bisa beli apa-apa,” ungkapnya sambil tertawa. Jenis Bawang Varietas yang dikembangkan Ade ada lah bawang bali karet. Awalnya, ia hanya memiliki sekitar 4 ons benih, dan sekarang sudah mencapai kirakira 400 ton. “Ini dari biji aja awal-awalnya, dari 4 ons jadi 4 kg lalu 40 kg terus saya bikin banyak,” ujarnya. Ade mengungkap alasannya mengapa ia memilih bawang bali karet, padahal dari Brebes, Jateng, ada bawang khas jayalaksana dan menteng kecil merah.

“Bawang merah yang kecil itu virusnya tinggi, yang bali karet aman,” cetusnya. Ia melanjutkan, pernah juga menjajal bawang batu dari Malang, tetapi warna nya “tidak menjual” di pasar. Bawang batu biasa hanya laku Rp10 ribu per kg, sementara bawang bali karet laris dibandrol Rp12 ribu per kg. Ade menjabarkan, jika dibelah, bawang merahnya seperti bawang merah biasa, hanya saja penampilannya benar-benar merah. Dengan mengejar perbaikan kualitas seperti itu, bawang merahnya dicari petani kendati ia tidak menjualnya ke pasar.

Pria yang mulai menekuni budidaya ba wang sejak 1995 ini meyakini bawangnya berdaya tahan kuat. “Bawang dari saya kuat karena disimpan enam bulan juga aman, nggak kempes. Di kios bisa tahan 7 bulan khusus benih saya,” tandasnya. Pupuk Kandang Tua Ade memaparkan, umumnya budidaya bawang merah bisa ditanam pada ketinggian 800-900 m di atas permukaan laut dan dipanen pada umur sekitar 70 hari. Namun di daerahnya yang berketinggian 600 m dpl, umur panen 50-60 hari.

Benih bawang merah yang kini di kembangkannya merupakan benih turun-temurun dan sudah turunan ke20. Ia mengaku, menjaga benih dengan cara melakukan budidaya yang baik. Selain memperhatikan faktor cuaca, penggunaan pupuk juga harus dilakukan dengan cermat. Ia menggunakan campuran pupuk kimia dan pupuk kandang yang sudah terfermentasi. “Pupuk yang saya gunakan sudah disimpan selama dua tahun.

Kalau enam bulan menurut saya belum tua, belum dingin,” anggapnya. Untuk budidaya, Ade menerapkan hal yang sama dan ditambahkan trik pada saat perawatan. ia mengatakan tidak mengejar ukuran yang terlalu be sar, namun kecil tetapi berat. “Susut nya sedikit, mainnya di bobot,” katanya. Ade tetap memperhatikan pemberian pupuk. Ia mengutarakan terdapat perbedaan pemupukan di dalam budidaya bawang dibandingkan sayuran daun. Karena bawang merah dipetik umbi akarnya, maka ia lebih memperhatikan perkembangan akar sehingga porsi pupuk P dan K yang lebih banyak. Pupuk N hanya sedikit saja.

Perbaikan Kualitas Ade mempraktikkan budidaya seca ra tumpang sari. Pada awal musim hu jan, ia menanam kubis. Setelah mencapai umur 40 hari, ia menanam bibit bawang merah yang telah disimpannya, lalu dilanjutkan lagi dengan te rong. Dengan demikian ia tidak hanya mengandalkan penghasilannya dari bawang, tetapi juga dari kubis dan te rong. Ia membandingkan, jika mena nam bawang merah dengan cabai keri ting menggunakan mulsa, penanaman sudah tidak bisa lagi dilanjutkan karena habis dipanen dalam waktu 6-7 bulan.

Ade menanam bawang merah pada dua lokasi, yakni di lahan tadah hujan (gunung) dan sawah. Tanam pada musim penghujan dilakukannya di gunung pada Februari-Maret lalu dipanen Mei. Hasil panennya ia sortir. Yang bagus ia jual, sisanya untuk konsumsi sendiri. Namun ia juga tidak lupa menyisakan benih untuk pertanaman bulan berikutnya. Saat musim kemarau, ia berpindah tanam ke sawah.

Website :  kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *