Mudah VS Sulit Mengingat

Dalam beberapa kasus, meskipun kita sudah menggunakan berbagai cara untuk membantu, namun si kecil tetap kesulitan mengingat wajah dan nama orang-orang di luar keluarga intinya. Alfa menyarankan agar hal ini ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan apakah organ sensoris anak berfungsi dengan baik. Jika anak mengalami gangguan di indra pendengaran, hal tersebut mungkin dapat menyulitkannya mengingat.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

“Bila tidak ada gangguan sensoris dan anak tetap kesulitan mengingat, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan ahli lebih lanjut, baik psikolog maupun dokter tumbuh kembang anak,” saran Alfa. Di sisi lain, batita yang mudah mengingat belum tentu bisa dikategorikan sebagai anak berbakat. Mengingat itu hanyalah salah satu kemampuan yang dimiliki anak dalam berbagai tingkatan. Jika memang daya ingatnya berkembang lebih baik daripada anak lain pada umumnya, kita tentu perlu bersyukur. Karena hal ini bisa mendukungnya untuk lebih mudah mempelajari hal-hal baru yang ada di lingkungan, termasuk mendukungnya untuk belajar di sekolah kelak.

Agar Liburan Keluarga Tetap Lancar

Punya rencana liburan keluarga besar dan mengajak si batita? Supaya semua anggota keluarga bisa senang dan liburan berjalan dengan damai, sebaiknya sesuaikan kecepatan dengan anggota keluarga yang paling lamban, yaitu si batita yang masih suka ngambek atau bad mood. Jadikan si batita sebagai patokan untuk segala aktivitas yang akan dijalani. Bersikap realistis akan membuat rencana liburan dapat terwujud, sementara jika terlalu memaksa si batita mengikuti irama orang dewasa, pada akhirnya Mama Papa yang akan frustrasi.

Kecemasan Orangtua Menurun Ke Anak

Penelitian yang dimuat di Proceeding of the National Acadamey of Sciences memaparkan, kecenderungan untuk mengalami gangguan kecemasan dan depresi ternyata dapat diturunkan dari orangtua ke anaknya. Studi yang dilakukan oleh Departemen Psikiatri dan Health Emotions Research Institute pada University of Wisconsin-Madison (UW) ini menunjukkan, sirkuit yang over-aktif pada tiga area otak ternyata dapat diwariskan dari generasi ke generasi. “Fenomena ini dapat menjadi penanda munculnya gangguan kecemasan dan depresi. Temperamen yang mudah cemas ini bahkan sudah dapat diamati sejak usia sangat dini,” kata peneliti senior, Dr. Ned Kalin dari UW School of Medicine and Public Health. “Risiko ini juga dapat muncul di kemudian hari. Studi ini memberikan pemahaman baru akan gangguan tersebut serta mendorong para ahli untuk memberikan perawatan yang lebih selektif,” imbuh Kalin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *